Ekspor truk Tiongkok bukan hanya soal harga
Pasar truk domestik masih terjebak dalam persaingan harga, dan pasar luar negeri telah menjadi medan tempur kedua
Data berbicara sendiri. Statistik publik menunjukkan bahwa ekspor kendaraan komersial China naik dari 402.000 unit pada tahun 2021 menjadi 582.000 unit pada tahun 2022, 770.000 unit pada tahun 2023, dan 904.000 unit pada tahun 2024, bahkan mencapai 1,06 juta unit pada tahun 2025. Dalam empat tahun, skala ekspor meningkat lebih dari dua kali lipat.
Hal ini bukan sekadar soal "menjual lebih banyak kendaraan". Ekspor truk China sedang bergeser dari perdagangan kendaraan utuh menuju manufaktur lokal, adaptasi skenario penggunaan, dan terobosan di sektor energi baru.

Data: Ekspor kendaraan komersial terus menunjukkan tren kenaikan
Pada tahun 2021, ekspor mobil China mulai meningkat secara signifikan. Hingga tahun 2025, ekspor kendaraan komersial telah melampaui angka satu juta unit. Hal ini sangat krusial bagi industri truk.
Akibat tarif angkutan domestik yang rendah, penggantian kendaraan yang dilakukan secara hati-hati, serta perang harga yang ketat, banyak perusahaan harus mencari pertumbuhan tambahan di pasar luar negeri. Ekspor bukan hanya bertujuan untuk menyerap kelebihan kapasitas produksi, tetapi juga untuk membentuk kembali kurva pertumbuhan perusahaan.
Ekspor truk China bukan hanya soal harga
Namun pasar luar negeri bukanlah pasar yang seragam. Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, Asia Tengah, dan Asia Tenggara tetap menjadi pasar basis bagi ekspor truk China. Wilayah-wilayah ini memiliki kebutuhan di sektor infrastruktur, pertambangan, pelabuhan, transportasi energi, dan logistik perkotaan. Pelanggan paling memperhatikan tiga hal: apakah harga beli truk terjangkau, apakah truk tersebut tahan lama, dan apakah truk dapat diperbaiki ketika mengalami kerusakan.
Oleh karena itu, truk berat diesel masih menjadi tulang punggung ekspor. Kendaraan energi baru merupakan segmen tambahan, namun kendaraan berbahan bakar minyak masih menjadi sumber arus kas utama.
Kasus: Shaanxi Automobile dan Foton memulai lokalisasi
Dulu, ekspor berarti "mengirimkan kendaraan ke luar negeri". Saat ini, perusahaan lebih cenderung membangun sistem lokal mereka sendiri. Shaanxi Automobile adalah kasus yang khas. Informasi publik menunjukkan bahwa Shaanxi Automobile telah menjalankan produksi atau perakitan lokal di pasar-pasar seperti Aljazair, Pakistan, Meksiko, dan Kirgistan.
Di antaranya, ekspor kumulatif ke Aljazair telah mencapai sekitar 40.000 unit truk, dan perusahaan akan terus mempertahankan stabilitas pasar tersebut melalui pabrik lokal.
Ekspor truk China bukan hanya soal harga
Unit tractor head SHACMAN X3000 pertama berhasil keluar dari jalur perakitan di Meksiko.
Foton juga menempuh rute serupa. Pada tahun 2025, Foton akan memproduksi kendaraan pertamanya di pabrik CKD BAIC di Coega, Afrika Selatan. Afrika Selatan memiliki fondasi industri otomotif sendiri, dan juga dapat menjangkau pasar-pasar Afrika di sekitarnya.
Langkah semacam ini bukan sekadar "membangun pabrik untuk citra semata". Perakitan lokal dapat mengurangi tarif bea masuk dan biaya logistik, serta memudahkan akses ke dalam sistem pengadaan lokal. Yang lebih penting, jaringan suku cadang, perbaikan, dan layanan purna jual dapat dibangun secara bersamaan.
Truk berbeda dengan mobil penumpang. Ketika mobil penumpang rusak, pemiliknya hanya merasa tidak senang; ketika truk rusak, armada akan mengalami kerugian secara langsung. Pada akhirnya, pelanggan luar negeri tidak melihat pada harga transaksi, melainkan pada waktu operasional kendaraan (uptime). Siapa pun yang dapat memproduksi truk yang lebih jarang mengalami kerusakan akan mendapatkan pembelian berulang.

Energi baru: Menjajaki pasar ambang batas tinggi di Eropa dan Amerika
Perubahan lainnya adalah truk berat energi baru mulai menjajaki pasar kelas atas.
Ekspor truk China bukan hanya soal harga
FT melaporkan pada Juli 2026 bahwa Windrose Electric, startup truk berat listrik asal China, telah mulai mengekspor truk listrik berat buatan China ke Amerika Serikat. Model Global E700 dibanderol dengan harga sekitar $285.000 dan memiliki jangkauan tempuh sekitar 416 mil. Batch pertama truk listrik buatan China yang masuk ke Amerika Serikat dikenakan tarif bea masuk sekitar 64%, namun perusahaan tersebut tetap berencana memasuki pasar melalui keunggulan biaya dan teknologi.
Sinyal yang ditangkap dari hal ini sangat kuat: ekspor truk China tidak lagi hanya mengandalkan harga murah untuk merambah pasar berkembang. Namun kita juga tidak boleh melebih-lebihkan pencapaian ini.
Ekspor truk China bukan hanya soal harga
Ambang batas pasar Eropa dan Amerika bukan hanya soal harga. Sertifikasi, tarif bea masuk, kepatuhan data, solusi pembiayaan, jaringan purna jual, dan sistem nilai sisa — masing-masing merupakan hambatan yang berat. Skala Windrose saat ini masih kecil, dan kasus-kasus tersebut lebih bersifat penjajakan daripada produksi skala besar.
Skenario yang lebih mendekati produksi massal justru berada di lingkungan industri berat seperti tambang, pelabuhan, dan pabrik semen. Baru-baru ini, seorang klien tambang terkemuka di Indonesia awalnya membeli lebih dari 150 unit dump truck listrik murni 8×4 berkapasitas 600 kWh dari XCMG, dan kemudian menambah pesanan sebanyak 100 unit lagi, mencetak rekor baru untuk pesanan tunggal truk berat berkapasitas besar di pasar luar negeri.
Ekspor truk China bukan hanya soal harga
Signifikansi pesanan ini bukan sekadar soal "menjual 100 unit lagi". Operasi pertambangan memiliki rute yang relatif tetap, intensitas operasional yang tinggi, dan sistem pengisian ulang energi yang lebih mudah direncanakan. Hal yang lebih diutamakan pelanggan adalah apakah kendaraan dapat terus beroperasi dan apakah biaya per kilometer dapat ditekan.
Fakta bahwa dump truck listrik murni berkapasitas tinggi dipesan ulang dalam skenario seperti ini menunjukkan bahwa penerimaan pelanggan luar negeri terhadap truk berat energi baru telah bergeser dari penggunaan uji coba ke pengadaan dalam jumlah besar.